Nasionalisme Diponegoro Terbentuk Atas Gabungan Khazanah Timur Tengah dan Kenusantaraan

Budayawan Zastrouw Al- Ngatawi melaporkan kalau jiwa nasionalisme Dipenogero dalam melawan kolonialisme dibangun sebab bacaannya yang luas serta mencampurkan antara khazanah Arab serta kenusantaraan.

Nasionalisme Diponegoro Terbentuk Atas Gabungan Khazanah Timur Tengah dan Kenusantaraan

" Pangeran Dipenogoro merupakan seseorang penjahit, iktikad aku penjahit yang merajut serpihan- serpihan kebangsaan yang tercecer serta retak oleh ulah penjajah," kata Zastrouw dikala membagikan testimoni pada Peluncuran novel Jejaring Ulama Diponegoro: Kerja sama Santri serta Ksatria Membangun Islam Kebangsaan Dini Abad ke- 19 karya Zainul Milal Bizawie di Auditorium 2 Gedung Perpusnas RI, Jakarta Pusat, Kamis( 25/ 7).

Bagi Zastrouw, Diponegoro menekuni kitab- kitab kuning klasik, semacam Al- Ghayah wat Taqrib karya Al- Qadhi Abu Syuja, Nasihatul Mulk karya Imam Ghazali, Muharrar karya Imam Al- Farai, serta Lubabul Fiqih karya Al- Mahalli, serta Tajus Salatin. Tidak hanya itu, Diponegoro pula diucap Zastrouw mengkaji kitab- kitab kejawaan, ialah Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, Joyo Lengkoro Wulang, serta Bongo Suwiryo.

" Sehingga ia dapat mempertautkan antara khazanah klasik kitab- kitab kuning peninggalan kebudayaan Arab, pemikiran Timur Tengah dengan khazanah kenusantaraan Indonesia, serta ia rajut jadi sesuatu spirit perjuangan nasionalisme.( Diponegoro) Menyatukan ulama, ksatria, pendeta, serta segala susunan warga sebab dia memiliki kapasitas buat itu," ucap laki- laki yang pula akademisi Unusia Jakarta ini.

Tetapi Zastrouw mengaku prihatin sebab zamam saat ini tidak sedikit orang Indonesia yang belajar ke Timur Tengah, kemudian kembali ke Indonesia memakai istilah- istilah Arab, semacam akhi, ukhti, umi, serta abi serta mengabaikan kekayaan Indonesia.

" Kitab- kitab klasik yang jadi khazanah nusantara yang mengarahkan kearifan, kebijaksanaan ia( Diponegoro) baca," jelasnya.

Tidak hanya Zastrouw, muncul pula tokoh lain yang mengemukakan testimoninya, ialah Katib Syuriyah PBNU KH Miftah Faqih, Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Meter Ikhsan Tanggok, Jubir BIN Wawan Hari Purwanto, Pimpinan Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta Ahmad Suaedy, serta Direktur Islam Nucantara Center A Ginanjar Syaban.