Ini Alasan Gus Miftah Tak Mau Bedakan Majelis Besar dan Kecil!

Baru-baru ini nama Miftah Maulana Habiburrahman atau yang lebih dikenal dengan Gus Miftah sedang hangat diperbincangkan publik. Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman ini telah melakukan dakwah di berbagai klub malam di Jakarta.

https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 31 614 2085804 ini-alasan-gus-miftah-tak-mau-bedakan-majelis-besar-dan-kecil-ujovpdhQFB.jpg

Pada hari Senin (29/7/2019), Gus Miftah mengunggah video pengajian 'Sarasehan Sareng Gus Miftah' yang telah diselenggarakan di alun-alun Bung Karno Ungaran, Semarang.

Dalam unggahannya itu Gus Miftah menyebut, lebih baik seorang pendosa yang khawatir dengan dosanya, daripada seorang yang banyak amal tapi sombong dengan amalnya.

"Aku nggak pernah tahu amalan mana yang diterima oleh Tuhanku. Oleh karena itu aku nggak pernah membedakan majelis besar maupun majelis kecil, selama ada kalimat Allah," ujar Gus Miftah dalam Instagramnya kemarin.

Seperti dijelaskan Okezone,  pendosa merupakan orang yang melakukan dosa tetapi sadar akan dosanya dan mau bertaubat. Pendosa ini lebih baik daripada seseorang yang sering beribadah namun sombong dan riya terhadap amalannya.

Perbuatan riya termasuk ke dalam syirik kecil sehingga dilarang oleh agama Islam dan hukumnya pun adalah haram. Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.”

Dalam bahasa Arab, arriya’ (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang bermakna memperlihatkan. Riya merupakan memperlihatkan sekaligus memperbagus suatu amal ibadah dengan tujuan agar diperhatikan dan mendapat pujian dari orang lain. Hal tersebut termasuk riya karena meniatkan ibadah selain kepada Allah SWT.

“Aku mendengar Umar bin Khattab berkata di atas mimbar; ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan.” (H. R. Bukhari Muslim).

Adapun amal perbuatan yang diridhai Allah SWT ialah yang diniatkan kepada Allah semata dan dikerjakan dengan ikhlas sesuai dengan kemampuan. Sementara ibadah yang tidak akan diterima oleh Allah merupakan amal ibadah yang dikerjakan dengan niat bukan karena Allah, tidak ikhlas karena ingin mendapat imbalan (bisa berupa pujian atau penghargaan), serta mengada-ada.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal ingin dilihat maka Allah akan tampakkan amalan riya itu, dan barangsiapa yang beramal dengan sum’ah (ingin didengar oleh orang lain), maka Allah akan bongkar pula amalan sum’ah tersebut”. (HR Bukhari dan Muslim)


Dan beliau juga bersabda, “Hal yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik ashgar, maka beliau ditanya apakah hal itu, dan beliau menjawab: Riya. Maka kelak dihari kiamat , Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya itu: Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian perlihatkan amalan kalian kepada mereka! Apakah kalian akan mendapatkan ganjaran dari mereka?!”. (HR Ahmad)