Didi Kempot dan Pesonanya Menggerakkan Kaum Patah Hati

Jakarta- Nama Didi Kempot terus menjadi menggaung kala punggawa campursari ini didapuk bagaikan bintang tamu rubrik Ngobrol Satu Jam Bersama( Ngobam) di kanal Youtube kepunyaan Gofar Hilman. Berbeda dengan episode- episode lain, Ngobam Didi Kempot dihelat dalam format istimewa. Gofar Hilman terencana tiba ke Solo, kemudian menggelar Ngobam dalam wujud offline yang dapat dihadiri oleh para penggemar Didi Kempot. Tidak disangka, animo pemirsa sangat membeludak.

Didi Kempot dan Pesonanya Menggerakkan Kaum Patah Hati

Kala video Ngobam Didi Kempot disiarkan, langsung sukses menduduki peringkat paling atas di Youtube dan menembus lebih dari satu juta pemirsa. Suatu capaian yang mengungkap fenomena terkini, kalau anak muda begitu mengidolakan penyanyi campursari yang telah puluhan tahun malang melintang berkesenian ini.

Perihal ini lalu meningkatkan ciri tanya besar di benak aku. Memangnya apa sih yang membuat Didi Kempot belum redup pamornya? Apalagi namanya terus menjadi dielu- elukan paling utama oleh para generasi langgas?

Persoalan aku terjawab telah kala kesimpulannya menghadiri panggung Didi Kempot pada perayaan hari jadi PKB di Jakarta pada Selasa, 23 Juli 2019. Jalur Raden Saleh telah dipenuhi para anak muda yang berpakaian kasual semenjak jam 18. 00 Wib. Sementara itu, Didi Kempot dijadwalkan tampak pada jam 21. 00 Wib. Sangat penggemar yang militan.

Jangan salah, kawula muda yang muncul di situ tampak dengan atribut gaul seperti hendak menghadiri konser- konser kekinian semacam We The Fest serta Lalala Fest. Berbalut kaos yang kebesaran, jaket, celana denim, serta berselempangkan tas samping mini yang melekat di salah satu pundak. Tidak ketinggalan sepatu kets kekinian dengan merek yang menandai anak muda semacam Keds, Converse, ataupun Vans.

Warnanya pentas tersebut ikut disesaki kalangan wanita generasi milenial. Entah tiba sendiri ataupun menggandeng pendamping, barisan wanita ini nampak tidak tabah menantikan aksi panggung Didi Kempot.

Serta si idola yang ditunggu- tunggu tampak pula. Dengan kostum kemeja bermotif didominasi corak hijau, Didi Kempot sukses mengaduk- aduk emosi para penggemarnya melalui lirik demi lirik yang dia bawakan. Dia mengoyak relung terdalam perasaan para pemirsa.

Para sad boys serta sad girls, julukan buat para fans Didi Kempot, hanyut serta lebur menyanyikan lagu- lagu yang didendangkan malam itu. Didi Kempot sesekali melontarkan persoalan seputar patah hati kepada kerumunan pemirsa di situ. Suatu topik yang begitu lekat dengan kehidupan anak muda kiwari.

Dari sana aku menyadari, pantas saja Didi Kempot sukses menarik banyak wisatawan anak muda. Apalagi sampai- sampai, Didi Kempot diganjar gelar Lord of Broken Heart. Ya, Didi Kempot piawai meramu patah hati jadi bahan lagu yang menyayat serta menampar. Tetapi, tidak menjual kesedihan yang muluk- muluk. Tiap lagu yang dia mengadakan mengambil diksi ringan serta menyederhanakan konsep patah hati.

Didi Kempot mengajari anak muda buat menertawakan patah hati. Patah hati bukan perihal yang memalukan. Tiap orang tentu hendak hadapi itu serta tingkatan tragisnya bakal berbeda- beda. Tetapi kesamaanya, bakal terdapat sakit yang terus menancap dan memori yang berat dibiarkan. Tetapi patah hati tidak boleh berbekas lama. Seperti itu yang diingatkan Didi Kempot melalui lagu- lagunya.

Patah hati tentu menjejakkan cedera yang susah dikubur. Tetapi apakah kita hendak terus memupuk produktif kepahitan itu? Seperti itu yang dinaikan Didi Kempot dalam lagunya.

Tema diselingkuhi, ditinggal nikah, putus cinta, menanti pujuaan hati, cinta bertepuk sebelah tangan, serta tema- tema seragam memanglah klasik dituangkan jadi lagu oleh pemusik Indonesia. Tetapi di tangan Didi Kempot, seluruh kejadian kelam tersebut tidak harus ditatap secara menye- menye serta meromantisasinya secara kelewatan. Patah hati malah pantas dirayakan sebab membuat kita terus menjadi kokoh serta bijak dalam memilah langkah terpaut asmara.

Seperti itu kekokohan serta energi pikat Didi Kempot. Kayaknya, penyanyi yang ialah adik dari pelawak Srimulat, Mamiek Prakoso ini menyelipkan mantera sehingga masing- masing lagunya gampang dihafal serta di cerna oleh pendengarnya. Sekalipun mereka bukan berasal dari Jawa serta tidak paham bahasa Jawa. Ini yang aku saksikan sendiri.

Pemirsa yang membanjiri panggung Didi Kempot di harlah PKB malah pemuda- pemudi Jabodetabek. Sesekali nampak atribut bendera dibentangkan, bertuliskan Sadbois Depok. Memanglah terdapat pula pemirsa yang fasih berbahasa Jawa; mereka merupakan perantau ataupun yang terencana jauh- jauh bertandang demi si Dewa Patah Hati.

Kemudian, patah hati mana yang masih begitu kamu ingat? Lekas hapus serta berjogetlah dengan lagu Didi Kempot.