Analis: Jokowi Mainkan Falsafah Jawa untuk Hadapi Prabowo

Mikhael Raja Muda Bataona analisis politik dari Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, memandang Joko Widodo Presiden lagi memainkan falsafah Jawa dalam mengalami rival politiknya dalam kontestasi Pemilu 2019, Prabowo Subianto.



" Jokowi, aku kira lagi memainkan falsafah Jawa yang ia yakini dalam karir politiknya semenjak ia jadi wali kota di Solo," kata Bataona, di Kupang, Senin( 29/ 7/ 2019).

Bataona mengemukakan perihal itu, berkaitan dengan mungkin akumulasi partai koalisi dalam pemerintahan Jokowi- Amin 5 tahun ke depan.

" Soal akumulasi kekokohan koalisi di pemerintahan serta parlemen, aku kira masih pada tingkat lampu kuning. Lampu kuning sebab belum hingga pada tingkat lampu hijau buat akumulasi koalisi," katanya dikutip Antara.

Falsafah Jawa yang dimainkan Jokowi, bagi ia, awal merupakan lamun sira sekti, ojo mateni yang berarti walaupun kalian sakti, jangan sekali- kali menjatuhkan.

Setelah itu kedua merupakan lamun siro banter, ojo ndhisiki yang berarti walaupun kalian kilat, jangan senantiasa mendahului. Pula yang ketiga ialah lamun sira pinter ojo minteri yang maknanya walaupun kalian pintar, jangan sok pintar.

Dalam konteks ini, Jokowi senantiasa memandang Prabowo bagaikan ksatria lain yang wajib dia hormati.

" Seseorang pahlawan demokrasi langsung yang kayaknya hendak berdarah- darah serta meruntuhkan bangsa, namun kesimpulannya dapat berakhir damai," kata ia.

Di situlah nampak konsistensi Jokowi dalam memanifestasikan falsafah Jawa yang diyakininya, paling utama terhadap rival terberatnya Prabowo, kata ia.

Tadinya, video tentang ketiga filsafah Jawa diatas sempat diunggah Joko Widodo di account Twitter pribadinya serta setelah itu jadi viral di sosial media. Dalam video tersebut, Jokowi lagi diwawancara oleh salah satu jurnalis tentang pegangan hidup yang dipegang sepanjang jadi pemimpin.