Berkenalan dengan Suku-Suku yang Tak Mengenal Angka

Sebagian dari kita yang sejak kecil diminta menghafal huruf dan angka, lalu diajari perhitungan sederhana hingga matematika tingkat lanjut di sekolah mungkin menganggap orang-orang Pirahã aneh. Namun, sekali lagi, orang-orang Pirahã sebatas tak kenal angka, bukan tidak cerdas. Everret pun yakin apabila seorang Pirahã dibesarkan oleh keluarga yang berbahasa Portugis—bahasa mayoritas orang Brazil, mereka akan mampu belajar soal angka.

Suku Piraha di pedalaman hutan Amazon, Brazil. FOTO/Wikicommon

Justru Everret menganggap manusia lain di dunia ini aneh ketika bertemu masyarakat nir-angka seperti Pirahã. Dia bertanya-tanya, mengapa manusia pada akhirnya mengenal angka? Bagaimana cara manusia belajar menghitung? Mengapa pada akhirnya manusia menjadi bergantung kepadanya?
Rasa penasaran itu dia salurkan dengan cara meneliti sejarah penemuan angka. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku Numbers and the Making of Us: Counting and the Course of Human Cultures (2017).

"Bertemu dengan bahasa yang tidak memiliki angka atau sejumlah angka membawamu ke jalan mempertanyakan apa jadinya dunia tanpa angka dan menghargai bahwa angka adalah ciptaan manusia dan ia bukan sesuatu yang secara otomatis datang dari alam," ujar Everret kepada Smithsonian Magazine.

Everret mengatakan jumlah jemari manusia berhubungan dengan sejumlah bahasa yang menggunakan angka berbasis 10, 20 atau 5. Bahasa Inggris, dan tentu bahasa Indonesia, menggunakan angka berbasis 10 atau desimal. Nenek moyang bahasa Inggris, yaitu Proto-Indo-Eropa (PIE) juga tergolong desimal.

"PIE berorientasi desimal karena, sebagaimana di banyak kebudayaan lain pula, tangan-tangan nenek moyang penurut bahasa kita berfungsi sebagai pintu gerbang menuju kesadaran bahwa 'lima jari di tangan ini sama dengan lima jari di tangan itu'. Pikiran seperti diejawantahkan menjadi kata-kata dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ini sebabnya mengapa kata'"lima' dalam banyak bahasa berasal dari kata 'tangan'," ujar Everret dalam artikelnya di The Conversation.

Tanpa angka, Everret menduga kebudayaan manusia bakal sangat berbeda. Negara-bangsa yang luas tidak mungkin eksis tanpa angka. Masyarakat agraris yang besar juga demikian.

Sekitar 5000 atau 8000 tahun lalu, orang-orang di dua negara agraris di Mesopotamia ingin menjalin kerja sama dagang. Untuk berdagang, mereka butuh menghitung, sehingga mereka membikin semacam token dari tanah liat untuk mewakili komoditas tertentu.

Token ini kemudian disimpan dalam suatu wadah. Suatu kali, seseorang menyadari daripada repot menghitung token dalam wadah, memberi tanda di permukaan wadah yang dapat dilihat para pedagang sudah cukup memberi tahu banyaknya token dalam wadah.

"Kemudian seseorang menyadari tanda ikonografis cukup mewakili maksudnya," ujar Everret. Lama-kelamaan, angka-angka itu lahir.